Setelah puas memakan ikan, mereka memikirkan untuk membuat tempat perlindungan agar bisa beristirahat dan terhindar dari udara dingin dan hujan.

Setelah beberapa lama berpikir, Lynx mendapatkan ide untuk membuat tempat perlindungan di pohon besar yang menjadi tempat mereka berlindung sebelumnya. “Pohon tempat kita berlindung tadi malam cukup kuat untuk menahan angin. Bagaimana jika kita rapikan dan perkuat agar kita bisa menampatinya untuk sementara waktu ini,” katanya dengan semangat.

Leena mengangguk. “Aku setuju dengan itu. Aku merasa lebih terlindungi daripada tempat sebelumnya. Aku tidak ingin mengalami kejadian seperti tadi malam.”

“Tenang saja! Kita perkuat agar bisa terlindungi dari hujan dan angin. Kita bisa merangkai ranting-ranting dan daun-daun agar lebih nyaman untuk kita tempati. Ayo kita kembali ke pohon itu!” Lynx menjawab dengan semangat.

Tiba-tiba Leena berkata dengan tidak nyaman. “Eh, Lynx… aku harus buang air kecil,” katanya sambil merona.

Lynx menoleh dan tertawa. “Ayolah Leena, kita sudah tidak berpakaian selama beberapa hari. Kenapa kamu masih terlihat malu malu?”

Leena melipat tangannya dan menatap Lynx dengan tajam. “Lynx mesum….jangan lihat aku! Aku tidak mau kamu mengintip!”

“Baiklah, baiklah. Aku tidak akan melihatmu. Tapi aku akan berdiri di sini dan menunggu,” Lynx menjawab sambil tersenyum lebar.

Setelah Leena pergi ke tempat yang lebih terpencil untuk menyelesaikan urusannya, Lynx hanya bisa tertawa kecil. Tak lama, Leena kembali dengan wajah masih terlihat sedikit jengkel.

“Lynx, bisakah kita mandi. Kita sudah beberapa hari belum mandi!” kata Leena, berusaha mengubah topik pembicaraan.

“Baiklah, kita bisa melakukannya di dekat sungai. Lagipula, mumpung kita ada di sini,” kata Lynx, setuju dengan ide itu.

Leena melangkah ke tepi sungai dan melihat air yang mengalir. “Tapi tidak ada sabun! Rasanya aneh sekali hanya membasahi diri tanpa sabun,” keluhnya.

“Tidak apa-apa, yang penting kita bisa bersih,” jawab Lynx, sambil mendekat ke sungai. “Ayo, kita mandi bersama! Kita juga harus tetap waspada terhadap keadaan sekitar.”

“Okay, tapi jangan berani-berani melihatku!” seru Leena sambil masuk ke dalam air.

“Tenang saja! Aku akan menjaga jarak,” Lynx berjanji.

Mereka mulai masuk kedalam sungai dan mandi berbarengan, sambil tetap waspada. Sesekali, Lynx menengok ke arah sekeliling, memastikan tidak ada bahaya yang mengancam mereka.

“Rasanya enak sekali bisa mandi, meski tanpa sabun,” kata Leena sambil menggerak-gerakkan air. “Seharusnya dari kemarin aku mandi di sungai ini.”

“Lain kali, kita bisa cari sabun, kalau kita punya waktu,” Lynx menjawab sambil tertawa.

Leena mencipratkan air ke arah Lynx. “Dasar! Apa kamu pikir kita bisa mendapatkan sabun disini?”

“Maaf, maaf! Hanya bercanda. Tapi nanti kita pikirkan bagaimana cara membuat pengganti sabun agar kita juga nyaman jika mandi !” Kata Lynx lalu  membalas mencipratkan air ke arah Leena, dan mereka berdua pun tertawa.

Setelah beberapa saat mandi, Leena merasa lebih segar, tetapi ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya. Tiba-tiba, ekspresinya berubah menjadi serius, dan air mata mulai mengalir di pipinya.

“Leena, kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Lynx, khawatir.

“Aku merindukan keluargaku. Rasanya sudah lama sekali kita terjebak di sini. Aku tidak tahu kapan bisa pulang,” jawab Leena, suaranya bergetar.

Lynx merasakan kepedihan dalam suara Leena. “Aku mengerti. Aku juga merindukan keluargaku. Tapi kita akan pulang. Aku janji akan selalu melindungimu sampai kita bisa kembali.”

“Bagaimana jika kita tidak pernah bisa kembali?” Leena bertanya, air mata semakin banyak mengalir.

“Kita pasti akan kembali. Dan kalaupun tidak bisa kembali, aku akan menikahi kamu disini dan kita bikin anak sebanyak banyaknya agar tidak kesepian!” Lynx berkata bercanda sambil tersenyum lebar, berusaha memperbaiki suasana hati Leena.

Leena tidak bisa menahan senyumnya. “Kamu ini memang tidak bisa serius, ya?”

“Aku serius, tapi kita harus tetap optimis. Sekarang, ayo kita kembali ke pohon dan lanjutkan pekerjaan kita,” kata Lynx, sambil mengulurkan tangan untuk membantunya keluar dari air.

Setelah mereka selesai mandi dan bercanda, mereka kembali ke pohon tempat perlindungan yang akan mereka tinggali. Suasana hati mereka terasa lebih baik, meskipun masih ada kerinduan yang membayangi. Lynx bertekad untuk selalu ada untuk Leena, sampai mereka bisa pulang ke rumah masing-masing.

Sepanjang perjalanan, mereka mulai mengumpulkan ranting-ranting kering yang berserakan di sekitar. Lynx mengawasi Leena yang tampak berhati-hati, setiap kali menginjak dedaunan kering di bawah kakinya. Tiba-tiba, dia mendengar teriakan kecil dari Leena.

“Aaaa! Lynx tolong?!” Leena berteriak, melompat mundur dengan ekspresi terkejut.

Lynx berbalik, mencari tahu apa yang terjadi. “Ada apa?” tanyanya, berusaha menenangkan.

“Ulat! Ada ulat kecil di dedaunan itu!” Leena menunjuk dengan jari gemetar.

Lynx tertawa. “Tenang saja, itu hanya ulat. Dia tidak akan mencelakaimu.”

Leena masih terlihat ketakutan, dia sangat fobia dengan ulat, tetapi dia segera mengalihkan perhatiannya dengan membantu Lynx mengumpulkan ranting. Leena memahami didalam kondisi mereka saat itu, dia harus bertambah kuat dan berani.

Saat mengumpulkan ranting, mereka secara tak sengaja bersentuhan, dan Leena merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Dia menatap Lynx, Dia selalu merasa malu setiap kali momen-momen kecil itu terjadi. Lynx yang begitu percaya diri dan penuh semangat membuat Leena terpesona. Dia berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah dengan mengalihkan pandangan.

Setibanya di pohon, Lynx langsung mulai merencanakan cara memperkuat perlindungan mereka. “Kita bisa mengikat ranting-ranting ini lebih kuat di bagian cabang yang lebih rendah. Itu akan menahan atap agar tidak terbang jika badai datang,” kata Lynx sambil menunjuk cabang-cabang yang lebih besar.

Leena mengikuti arahan Lynx, membantu mengikat ranting dengan menggunakan beberapa serat dari tanaman yang mereka temukan.

“Bagaimana kalau kita buat alas yang lebih nyaman juga?” tanya Leena. “Kita bisa mengumpulkan dedaunan dan rerumputan.”

“Bagus sekali! Kita juga perlu membuat saluran untuk mengalirkan air jika hujan deras. Agar kita tidak kebanjiran,” Lynx menambahkan.

Leena mengangguk setuju. “Aku bisa mencari tempat yang lebih rendah di sekitar sini untuk membuat saluran air.”

Setelah mempersiapkan semua bahan, mereka mulai membangun perlindungan. Lynx memanjat ke atas untuk mengikat ranting, sementara Leena berada di bawah, mengatur dedaunan dan ranting yang telah mereka kumpulkan. Mereka bekerja sama dengan penuh semangat, saling memberi semangat dan bantuan.

Di tengah-tengah pekerjaan, Lynx berhenti sejenak, melihat Leena yang sedang mengumpulkan dedaunan. “Kau tahu, aku bisa membuat benda tajam untuk memudahkan kita dalam memasak atau mencari makanan,” katanya.

“Bagaimana caranya?” Leena bertanya penasaran.

“Aku bisa mencari batu yang tajam. Kita bisa membuat pisau sederhana untuk memotong makanan,” jawab Lynx. Ia mulai mencari batu-batu yang tepat dan berhasil menemukan beberapa yang cukup tajam.

Sambil mengasah batu, Lynx memperhatikan Leena yang sibuk mengumpulkan dedaunan. “Leena, kau terlihat sangat serius. Kenapa tidak coba sedikit bersenang-senang?” Lynx menggoda.

Leena tersenyum, tetapi dalam hatinya dia merasa tersentuh melihat Lynx yang berusaha keras. “Aku hanya ingin semuanya berjalan lancar,” jawabnya. “Dan aku ingin membalas semua kerja kerasmu.”

Dengan pisau buatan tangan Lynx, mereka memotong dedaunan dan ranting yang terlalu besar. “Ini dia, kita bisa membuat atap yang lebih rata agar air hujan tidak menampung di atas,” kata Lynx saat ia menyusun daun-daun dengan rapi.

Akhirnya, setelah beberapa jam kerja keras, perlindungan sederhana mereka siap. Tempat itu tidak terlalu tinggi, tetapi cukup luas untuk bisa tidur dengan nyaman. Tempat perlindungan itu juga cukup tinggi dibandingkan sekitarnya, sehingga memberikan mereka perlindungan dari banjir jika hujan deras.

Lynx tersenyum puas melihat hasil kerja mereka. “Kita berhasil, Leena! Ini mungkin tidak sempurna, tetapi ini adalah tempat yang aman untuk kita,” ujarnya.

Leena mengangguk dengan penuh rasa syukur. “Ya, aku merasa lebih tenang sekarang. Terima kasih, Lynx,” katanya, matanya berbinar penuh kekaguman.

“Jangan khawatirkan ulat tadi lagi, kedepannya kita akan berhadapan dengan lebih banyak tantangan,” Lynx menambahkan, menyemangati Leena.

Leena mendengus pelan, mengangkat bahu dengan sedikit kesal. “Kenapa kamu ingatkan soal ulat itu lagi, sih? Aku paling nggak tahan sama ulat, tau,” katanya dengan nada bercampur antara kesal dan malu. “Dulu, di sekolah, aku sering banget dijahili teman-temanku pakai ulat. Bahkan sampai menangis karena saking takutnya.” Ia tertawa kecil, meski jelas ada rasa kesal dalam ingatannya.

Lynx menatapnya dengan penuh pengertian, lalu tersenyum lembut. “Maaf, Leena, aku nggak tahu kalau kamu punya fobia dengan ulat. Kalau aku tahu, pasti aku nggak akan bilang begitu,” katanya menenangkan, lalu meletakkan tangannya di bahu Leena dengan penuh simpati.

“Mungkin kita bisa membangun tempat perlindungan yang lebih baik setelah ini,setelah memiliki peralatan yang lebih baik,” Leena menjawab sambil tersenyum.

“Setuju! Tapi untuk saat ini, kita perlu melanjutkan membuat tanda SOS. Siapa tahu ada seseorang yang akan menemukan kita?” Lynx menjawab, mengajak Leena kembali ke pantai.

“Tanda SOS? Bagaimana kita melakukannya?” tanya Leena setibanya di pantai.

“Kita bisa menggunakan batu-batu besar untuk menyusun huruf-hurufnya,” kata Lynx sambil menunjuk ke arah batu-batu besar yang berjejer di sepanjang pantai. “Itu bisa menjadi huruf-huruf kita.” Katanya sambil melanjutkan “Tapi sebelumnya kita harus pastikan terlebih dahulu tempatnya aman tidak terkena air pasang.”

“Dan kita bisa menghiasnya dengan bunga! Siapa yang tidak mau melihat tanda SOS yang cantik?” Leena bercanda.

“Ya, semoga orang-orang tidak terlalu terpesona oleh keindahan alam dan mengabaikan pesan kita!” Lynx menjawab sambil tersenyum.

Mereka mulai menyusun batu-batu menjadi huruf SOS yang besar. Leena bekerja keras menempatkan batu dengan hati-hati, sementara Lynx memeriksa jarak dan proporsinya. “Ini harus sempurna! Jika tidak, kita akan terjebak di pulau ini selamanya!” Lynx menggoda.

Setelah beberapa saat, mereka akhirnya menyelesaikan tanda SOS besar yang terlihat jelas dari kejauhan. Lynx berdiri di belakangnya dan berteriak, “Semoga ini cukup terlihat! Jika ada pesawat lewat, mereka pasti akan melihatnya!”

“Kalau tidak, kita bisa memanggil mereka dengan teriakan kita!” Leena menambah lelucon.

Setelah mereka menyelesaikan tanda SOS, Leena menatap lautan yang tenang. “Sekarang, apa yang harus kita lakukan?” tanyanya sambil mengusap tangannya di pantai.

“Bagaimana kalau kita mulai mengumpulkan kayu untuk membuat api? Jika ada kapal atau pesawat yang lewat, kita bisa membakar kayu dan mengirim sinyal,” kata Lynx sambil memeriksa sekeliling.

kemudian mereka mulai mengumpulkan ranting ranting untuk diletakkan didekat tulisan SOS. Leena bertanya keheranan karena ranting yang dikumpulkan tidak hanya yang kering tapi yang masih basah juga dikumpulkan.

“Lynx, kenapa ada yang masih basah kamu kumpulkan juga?” Leena bertanya.

Lynx tersenyum dan menjelaskan, “Daun-daun basah ini juga penting, Leena. Yang kita butuhkan adalah asap, bukan hanya api. Daun yang hijau akan menghasilkan asap lebih tebal, dan itu bisa menarik perhatian dari jauh.”

“Oh, jadi kita butuh asap agar lebih terlihat, ya?” Leena mengangguk, memahami logika Lynx.

Lynx mengangguk kembali. “Tepat sekali! Jadi, mari kita kumpulkan kayu kering dan beberapa dedaunan yang masih basah untuk api kita nanti.”

Mereka mulai mencari kayu-kayu kering yang berserakan di sepanjang pantai. Leena dengan antusias mengambil kayu dan meletakkannya di tumpukan, sementara Lynx memastikan tumpukan yang mereka kumpulkan sesuai. Sesekali Lynx melirik melihat tubuh Leena dan mengagumi keindahannya. “Ntah mimpi apa aku hingga alami nasib seperti ini, syukurlah terjebaknya dengan gadis secantik Leena” kata Lynx dalam hati sambil terbayang adegan pertama kali bertemu Leena, saat dia tidak bisa mengendalikan diri dan menciumi tubuh Leena sehingga hampir terjadi hal yang tidak diinginkan.

Leena baru saja selesai mengumpulkan kayu, saat berjalan, ia menyadari Lynx memperhatikannya dengan intens.

"Lynx! Berhenti memperhatikanku seperti itu! Apa yang kau lihat?" tanya Leena dengan nada kesal.

Lynx terlihat sedikit canggung. "Ah, maafkan aku, Leena. Aku hanya... terpesona oleh kecantikanmu," jawabnya sambil tersenyum menggoda.

Wajah Leena memerah. "Jangan bercanda! Kau ini benar-benar mesum!Berhenti melihatku seperti itu."

Tiba-tiba, Leena menyadari sesuatu yang mencurigakan. Matanya terbelalak. "Astaga, Lynx! Apa itu?! Kau lagi lagi berpikiran mesum, ya?"

Lynx panik. "Apa? Tidak, tidak! Ini tidak sengaja, sungguh! Maafkan aku, Leena," katanya memohon.

Leena menatapnya dengan marah. "Dasar mesum!" Ia lalu melempar ranting ke arah Lynx.

"Maaf, maaf! Aku tidak bermaksud begitu. Kumohon, jangan marah. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi," Lynx berusaha membujuk Leena untuk memaafkannya.

Suasana sempat tegang, tapi perlahan-lahan membaik. Karena sering terjadi,  Leena sudah mulai terbiasa dan tidak bisa menyalahkan Lynx sepenuhnya, tapi dia bertekad harus secepatnya membuat pakaian untuk mereka. Mereka kembali fokus pada pekerjaan mempersiapkan kayu bakar, berusaha melupakan insiden tadi.

“Lynx, aku merasa sedikit lelah,” kata Leena setelah beberapa saat. Lynx melihatnya dan mengkhawatirkan kelelahan Leena.

“Lebih baik kamu istirahat sejenak. Kita sudah mengumpulkan cukup banyak kayu untuk saat ini,” Lynx berkata dengan lembut.

Leena menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku ingin terus membantu. Lagi pula, aku ingin mencari kerang setelah kita selesai mengumpulkan kayu.Siapa tau ada dipinggiran Pantai”

“Kerang? Itu ide yang menarik! Tapi ingat, kita harus berhati-hati apalagi angin cukup kencang, jangan sampai kita sakit, ntah apa yang harus kita lakukan jika itu terjadi.” Lynx memperingatkan mengingat mereka tidak ada pelindung pakaian dan mudah terserang sakit, tetapi senyumnya menunjukkan bahwa ia setuju dengan rencana itu.

Mereka terus bekerja, dan seiring waktu, tumpukan kayu semakin besar. Akhirnya, setelah merasa cukup puas dengan hasil kerja mereka, Lynx mengangguk puas. “Kita sudah mendapatkan banyak kayu. Ayo kita beristirahat sejenak sebelum melanjutkan lagi besok.”

“Setuju! Kita bisa mencari kerang dan menyiapkan api untuk memasak nanti,” Leena menjawab dengan semangat.

“Ya, siapa tahu, kita bisa membuat makanan enak dan mengundang perhatian dengan baunya!” Lynx menambahkan, merasa lebih optimis tentang rencana mereka.

Mereka berjalan menyusuri pesisir pantai, mengamati sekitar. Lynx berlari-lari kecil, menendang kerang-kerang yang berserakan di pasir. “Lihat, jika kita bertahan di sini lebih lama, kita bisa membuka bisnis kerang bakar!” Lynx menggoda.

“Ya, dengan siapa? Kecuali mungkin buaya yang datang mencicipinya,” Leena membalas sambil tertawa.

“Wach jangan mengatakan hal seperti itu, aku tidak bisa membayangkannya” Lynx melanjutkan.

Sementara itu, Leena memungut beberapa kayu kering dan melihat sekeliling. “Wow, lihat betapa indahnya air laut berkilau! Gimana kalau aku mandi lagi di sini ya?” tanyanya.

“Bisa saja tapi lain kali, jangan sekarang! kita tidak mengetahui bahaya apa yang ada di sekitar sini, selain itu air laut lengket, nanti kita tidak nyaman karena tidak ada air bersih” Lynx menjawab.

Leena mengerutkan dahi. “Kamu benar, sebaiknya kita mandi di sungai saja agar aman.

Setelah mengumpulkan kayu kering, mereka kembali ke tempat perlindungan yang telah mereka bangun. Lynx mulai menyiapkan kayu untuk menyalakan api. Beruntung, ia sudah mulai terbiasa menghidupkan api setelah beberapa hari di sana. Namun, kayu kering yang mereka bawa tidak semuanya cocok untuk dijadikan bahan bakar.

“Hmm, kenapa kayu ini begitu sulit menyala?” Lynx bergumam sambil berusaha memicu api dengan gesekan. “Seharusnya, ini tidak sulit! Ayo, keluarkan semangatmu, Lynx!”

Leena mengamati sambil berusaha menahan tawa. “Kalau kayu itu bisa bicara, mungkin dia akan berkata, ‘Tolong, jangan bakar saya!’”

“Jangan bercanda!” Lynx menoleh dengan serius. “Kau ingin kita tetap kedinginan?”

“Baiklah, baiklah. Aku hanya bercanda. Ayo, semangat!” Leena memberi semangat.

Setelah beberapa usaha, akhirnya api berhasil menyala. Lynx tersenyum bangga. “Lihat! Kita bisa memasak kerangnya sekarang!”

“Dengan apa? Kita tidak punya peralatan memasak!” ucap Leena bersedih.

“Kita bakar saja seperti ikan tadi, hanya itu pilihan yang kita punya saat ini.”Lynx memberi saran dengan anggukan setuju dari Leena. “Baiklah, tetapi kita harus cepat sebelum cuaca berubah,” ujarnya sambil mengamati awan yang mulai berkumpul di kejauhan.

Saat mereka sedang sibuk memanggang kerang, Lynx merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

“Leena, kau melihat awan itu?” Lynx bertanya sambil menunjuk ke arah langit yang gelap.

Leena menengadah dan melihat awan mendung yang bergerak cepat ke arah mereka. “Ya, sepertinya ada badai yang sangat besar dilautan,” jawabnya, nada suaranya tiba-tiba menjadi serius.

“Cepat, kita harus segera selesaikan makan kita dan memeriksa lagi segalanya karena sepertinya badai tersebut mengarah kesini.” Lynx mengingatkan, dan mereka segera menyelesaikan makan mereka.

Mereka tahu, perubahan cuaca yang tiba-tiba ini bisa menjadi masalah baru bagi mereka. Meskipun begitu, Lynx berusaha untuk tetap optimis. “Kita sudah melalui banyak hal. Kita pasti bisa menghadapinya!”

Leena tersenyum tipis, “Semoga saja, Lynx. Kita bisa melakukannya bersama-sama.”

